Jogja

Cerita Zufa Wisudawan UGM Raih IPK 4, Selalu Menelepon Ibu setiap Malam

Haris Ma'ani | 10 Maret 2026, 10:06 WIB
Cerita Zufa Wisudawan UGM Raih IPK 4, Selalu Menelepon Ibu setiap Malam
Zufa Pasha Sabina raih IPK sempurna. (foto: dok.UGM)

Akurat.co,Jogja-Di balik keberhasilan anak ada doa orangtua yang selalu membersamai.

Ini pula yang terjadi pada Zufa Pasha Sabina. Wisudawan UGM dengan IPK 4,00.

Zufa menjadi satu-satunya dari 1.201 lulusan sarjana yang meraih IPK sempurna pada wisuda program sarjana UGM, Februari lalu.

Baca Juga: Kisah Tiara Amanda Lulusan Termuda Kedokteran Gigi UGM, Sudah SD di Umur 5 Tahun

Selain meraih IPK sempurna, wisudawan Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) ini berhasil menyelesaikan studinya dalam waktu sekitar 3 tahun 6 bulan.

Padahal rerata masa studi lulusan sarjana adalah 4 tahun 2 bulan dengan IPK rata-rata 3,53.

Menelepon ibu setiap malam

Sosok asal Kebumen, Jawa Tengah ini, mengisahkan kebiasaan rutinnya menelepon ibu setiap malam.

Aktivitas sederhana namun penuh makna ini seolah menjadi kekuatan spiritual Zufa dalam menempuh pendidikan.

“Pokoknya setiap malam saya selalu menelpon ibu, senang rasanya kalau sudah mendengar suaranya, ” kenangnya.

Baca Juga: Kisah Anselmus Wau, Lulusan UGM Korban PHK yang Sukses Berbisnis Keripik Singkong

Seusai menelpon ibu, Zufa mengaku selalu mendapat motivasi dan petuah sehingga ia selalu bersemangat dalam menjalankan aktivitas kuliah di esok paginya.

Kini Zufa membawa mimpinya menjadi besar di bidang medika. Ia menilai program studi yang diambilnya mempunyai andil besar di masyarakat seiring dengan keilmuan yang berkelanjutan.

Menurutnya, ilmu kesehatan akan terus berkembang dan perlu dipelajari.

Baca Juga: Ramadhan di Kampus, Masjid UGM Sediakan 2.000 Porsi Sahur dan Buka Puasa Gratis

Seiring dengan hal ini, ia sedang melanjutkan belajarnya di program profesi ners selama kurang lebih satu tahun ke depan.

Zufa mengingatkan bahwa nilai akademik pada akhirnya hanyalah angka, sebuah representasi dari proses, kerja keras, dan usaha yang telah dijalani.

“Nilai itu bisa menunjukkan prosesmu, tetapi jangan sampai membuatmu lupa untuk tetap rendah hati, membumi, dan tidak sombong,” ungkapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.