Beda Pandangan Menkeu Purbaya vs Wali Kota Jogja soal Ramainya Pasar Beringharjo

Akurat.co,Jogja-Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memiliki catatan tersendiri saat melakukan kunjungan ke Pasar Beringharjo pada Selasa (17/3/) silam.
Dalam kunjungan yang didampingi Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, Purbaya menemukan fakta terkait pasar tradisional.
Ia menyebut pasar tradisional ternyata belum mati.
"Ternyata di sini masih ramai, omzetnya juga tinggi, bahkan bisa mencapai Rp2 triliun dan terus meningkat,” ujarnya.
Baca Juga: 14.592 Kendaraan Masuk lewat GT Purwomartani, Jalur Alternatif Macet
Purbaya mengatakan kondisi Pasar Beringharjo yang ramai menjadi indikator bahwa perekonomian tetap bergerak.
Ia juga mengaku berbelanja sejumlah produk seperti batik dan pakaian karena harga di Yogyakarta dinilai lebih terjangkau dibandingkan di Jakarta.
Selain itu, ia mencatat akses permodalan pedagang sebagian sudah terbantu melalui kerja sama dengan perbankan daerah.
Menanggapi anggapan bahwa pasar tradisional mengalami mati suri, Purbaya menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya benar.
Ia menyebut aktivitas ekonomi di berbagai pusat perdagangan mulai kembali pulih pasca perlambatan beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Rekor! Hari Ke-12 Posko Lebaran, KAI Daops 6 Layani 61.554 Penumpang
“Kalau lihat di sini cukup bagus. Orang berkumpul banyak. Jadi tidak mati suri. Memang kita baru keluar dari perlambatan, jadi pemulihannya belum merata, tapi arahnya positif,” jelasnya.
Wali kota Hasto sebut daya beli turun
Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo memberikan gambaran lebih rinci terkait kondisi riil di lapangan, khususnya menjelang lebaran.
Menurutnya, jumlah pengunjung pasar memang belum sepenuhnya pulih seperti beberapa tahun lalu.
Ia menyebut tren penurunan mulai terlihat sejak dua tahun terakhir.
Baca Juga: Pemkot Jogja Buka Layanan KB di Pasar Beringharjo
“Kalau dibandingkan tiga tahun lalu, pengunjung memang menurun. Tahun lalu sudah turun, dan sekarang ini kurang lebih sama dengan tahun lalu," katanya dikutip dari laman resmi pemkot Jogja, Senin (23/3/2026)
Ia menambahkan, fenomena membeludaknya pengunjung atau yang dikenal dengan istilah prepegan menjelang lebaran juga tidak lagi terjadi seperti dulu.
“Biasanya seminggu sebelum lebaran itu ramai sekali, bahkan sampai overload.
Tapi dua lebaran terakhir, termasuk tahun ini, tidak terjadi seperti itu,” ujarnya.
Hasto mengungkapkan beberapa faktor yang kemungkinan memengaruhi kondisi tersebut.
Salah satunya adalah perubahan perilaku belanja masyarakat yang kini mulai beralih ke platform daring.
"Banyak yang belanja online," ujarnya.
Baca Juga: Horeee, Buruh Gendong Pasar Beringharjo Dapat Fasilitas Bus Gratis
Faktor selanjutnya, memang daya beli menurun. "Itu juga tidak bisa kita pungkiri,” terangnya.
Lebih lanjut, Hasto menyoroti faktor inflasi yang turut berdampak pada daya beli masyarakat.
Ia menyebut angka inflasi di DIY berada di kisaran 4,9 persen, sementara di Kota Yogyakarta mencapai sekitar 5,19 persen.
“Kalau inflasi naik, otomatis daya beli menurun. Itu sudah rumus ekonomi.
Salah satu yang cukup terasa adalah kenaikan harga daging sapi, yang bisa naik sekitar Rp10 ribu,” ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






