Grebeg Ingkung Pagergunung, Cara Masyarakat Sitimulyo Bantul Wujudkan Rasa Syukur dan Gotong Royong

Akurat.co, Jogja-Grebeg Ingkung yang diadakan Desa Budaya Sitimulyo, Piyungan, Bantul, menjadi wujud rasa syukur dan semangat gotong royong warganya.
Grebeg Ingkung Pagergunung 2025 diawali dengan kirab budaya dari Balai Kalurahan Sitimulyo hingga Pendopo Pedukuhan Pagergunung II.
Dalam kirab budaya ini, gunungan ingkung ayam dan ubarampe hasil bumi yang telah dibuat, diarak warga berpakaian pakaian adat Jawa dengan pengawalan Bregada Karutangan Sitimulyo.
Tak hanya membagikan 3 gunungan utama berisi puluhan ekor utuh ayam ingkung, terdapat pula gunungan berisi hasil bumi, seperti terong, kacang panjang, sawi, wortel, buncis, timun, kol, dan lainnya, yang dibagikan kepada masyarakat ketika kirab berlangsung.
Baca Juga: 15 Tahun Tersimpan, UGM Kembalikan Artefak ke Masyarakat Warloka Labuan Bajo
Adapula gunungan yang berisi makanan ringan dan sego gurih.
Dkutip dari laman resmi Pemprov DIY, Ketua Desa Budaya Kalurahan Sitimulyo, Singgih Nurjono mengungkapkan, tradisi grebeg ingkung yang digelar setahun sekali ini baru berjalan selama 3 tahun terakhir.
Upacara adat ini dibuat sebagai salah satu kegiatan yang membersamai kegiatan ziarah makam bupati pertama Bantul, yang selalu dilaksanakan setiap tahunnya menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Bantul yang ke-194 tahun ini.
"Untuk acara ini, sebenarnya untuk acara rutinan nyekar, ziarah makam Bupati Pertama Bantul Kanjeng Raden Tumenggung Mangun Negoro dan tokoh-tokoh lain pada zamannya.
Wujud syukur ini karena mau tidak mau kita juga harus mengakui bahwasanya tanpa jasa beliau-beliau, itu mungkin kita juga tidak akan terlahir di daerah sini.
Jadi, kami sekaligus membuat acara grebeg ingkung ini untuk membersamai ziarah makam, sebagai wujud rasa bersyukur kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta anugerahnya kepada warga masyarakat di Padukuhan Pagergunung I dan II,” jelas Singgih.
Bupati pertama yang berkuasa di Bumi Projotamansari ini adalah Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Mangun Negoro.
Ia merupakan salah satu perintis yang memberikan sumbangsih dalam pembangunan Kabupaten Bantul.
Baca Juga: Berikut Sejumlah Agenda Akhir Pekan Di Jogja, Dari Pasar Kangen Hingga Pameran Seni
Memimpin selama 14 tahun sejak 20 Juli 1931 hingga tahun 1945, Mangun Negoro dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sasono Sentono, Pagergunung I, Sitimulyo, Piyungan.
Dikatakan Singgih, dalam ziarah makam ini, biasanya disajikan berbagai sajen, seperti kembang, ketan, kolak, apem, termasuk pula ingkung dan sego gurih. D
Dari tradisi inilah kemudian Kalurahan Sitimulyo memutuskan untuk mengangkat ingkung tersebut sebagai ikon upacara adat grebeg, yang sekaligus menjadi simbolisasi perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Plt. Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Bantul, Yulius Suharta menuturkan, ditetapkannya Kalurahan Sitimulyo sebagai Desa Mandiri Budaya merupakan hal yang luar biasa dan bukanlah perkara mudah.
Lantaran, dari 75 kalurahan yang ada di Kabupaten Bantul belum ada separuhnya yang bisa mencapai predikat sebagai desa mandiri budaya.
Baca Juga: Mantan Rektor UGM Sofian Effendi Tarik Pernyataan Soal Isu Ijazah Jokowi
“Ini luar biasa sekali. Tetapi pencapaian ini menjadi tanggung jawab yang tidak ringan. Harus ada kebersamaan semua unsur yang ada di Kalurahan Sitimulyo, baik pemerintah, masyarakat, ataupun lembaga-lembaga, terutama kepada para tokoh budaya yang ada di Kalurahan Sitimulyo,” ujar Yulius.
Dalam sekejap, 3 gunungan ayam ingkung dan gunungan hasil bumi lainnya ludes direbut oleh masyarakat. Kegiatan ini kemudian ditutup dengan doa bersama bersama masyarakat yang ada.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









