5 Fakta Menarik Jembatan Pandansimo Yogyakarta, Telan Biaya Rp800 Miliar, Hemat Operasional Kendaraan sampai Rp1,4 Triliun

Akurat.co,Jogja-Jembatan Pandansimo sudah dalam tahap akhir pembangunan dan kemungkinan akan segera diresmikan.
Pada Kamis (9/10/2025) kemarin, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) meninjau langsung perkembangan akhir pembangunan.
Saat ke Jembatan Pandansimo, AHY bersama Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Juga didampingi Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih.
Baca Juga: Tinjau Jembatan Pandansimo, Menko AHY Berharap Ekonomi Makin Tumbuh di Wilayah Selatan
Sejumlah fakta menarik dimiliki oleh jembatan, yang akan menjadi ikon baru wisata di Yogyakarta selatan ini.
Apa saja faktanya? Berikut penjelasannya disarikan dari berbagai sumber, salah satunya laman resmi Pemprov DIY:
1. Hubungkan wilayah Kulon Progo dan Bantul
Proyek yang dikerjakan selama 579 hari kalender sejak 17 November 2023 hingga 20 Juni 2025 ini menghubungkan Desa Banaran, Galur, Kulonprogo, dengan Desa Poncosari, Srandakan, Bantul.
Sebelumnya, ruas Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) antara Congot–Ngremang dan Pandansimo–Samas masih terpisah oleh Sungai Progo, sehingga membutuhkan waktu tempuh hingga 30 menit.
2. Dibangun dengan nilai Rp800 miliar
Jembatan Pandansimo dibangun dengan biaya mencapai Rp863,7 miliar dari APBN.
Jembatan Pandansimo membentang sepanjang 2.300 m dengan bentang utama 675 m dan lebar rata-rata 24 meter.
3. Hemat biaya operasional kendaraan mencapai Rp1,4 triliun per tahun
Sebelum jembatan ini ada, biaya operasi kendaraan mencapai Rp10,79 triliun per tahun, nilai waktu kendaraan Rp25,13 miliar, dan nilai produksi komoditas baru sekitar Rp41,5 miliar per tahun.
Jembatan ini berdasarkan studi kelayakan tahun 2017, dapat mengurangi biaya operasi kendaraan hingga 13,11% (setara Rp1,4 triliun per tahun).
Waktu tempuh berkurang 20 menit, dan nilai waktu kendaraan turun hingga 31,44%.
Produksi komoditas pertanian dan perikanan juga diproyeksikan naik 18,6% atau Rp7,7 miliar per tahun.
“Kita berharap dengan jembatan yang bukan hanya megah, tapi indah. Ini bisa meningkatkan konektivitas antarwilayah, mengurangi biaya mobilitas," kata AHY.
4. Buka akses pertanian seluas 2 ribu hektare
Selain berfungsi strategis secara ekonomi, Jembatan Pandansimo juga berperan membuka akses pertanian seluas 2.164 hektar di Kecamatan Galur.
Mendukung produksi 9.143 kuintal sayur dan buah, serta 13,3 ton hasil perikanan di Kecamatan Srandakan.
Infrastruktur ini diharapkan menjadi fondasi bagi pertumbuhan multi-sektor, termasuk pertanian, logistik, perikanan, dan pariwisata di selatan DIY.
5. Sri Sultan ingin jadi ikon wisata baru di pantai selatan Yogya
Sri Sultan berharap jembatan ini tidak hanya menjadi infrastruktur penghubung, tetapi juga tumbuh sebagai ikon wisata baru di kawasan pantai selatan Yogyakarta.
Menurutnya, bangunan jembatan ini sangat indah dan eksotis.
“Saya punya harapan bagaimana orang melihat jembatan itu tidak sekadar hanya jembatan biasa asal lewat bisa lewat. Tapi juga bisa menikmati sesuatu menurut selera mereka,” ujar Sri Sultan.
Sri Sultan mengungkapkan dirinya juga telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak di Bali untuk mengembangkan atraksi wisata yang menyesuaikan dengan karakter pantai selatan DIY.
Baca Juga: Plesiran di Pantai Pandansimo Bantul yang Punya Panorama Eksotis
Salah satunya adalah olahraga parasailing yang potensial karena arah angin yang berbeda dari Bali.
“Di kawasan ini kami sudah mencoba koordinasi dengan teman-teman di Bali. Tapi kalau di sini parasailing ya, itu yang bagus itu bulan Juni sampai Desember.
Tapi kalau di Bali itu Januari sampai Juni,” jelas Sri Sultan.
Dengan kondisi angin yang berganti arah di dua wilayah tersebut, Sri Sultan berharap aktivitas wisata bahari dapat saling melengkapi antara Bali dan DIY.
Harapannya, wisata parasailing bisa menarik minat wisatawan mancanegara ketika di Bali tak bisa dilakukan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






