Sejarah Masjid Ngadinegaran Yogyakarta, Diakui sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO

Akurat.co,Jogja-Ada sejumlah masjid bersejarah di Yogyakarta. Salah satunya adalah Masjid Ngadinegaran.
Masjid Ngadinegaran adalah salah satu masjid yang berdiri di jalur Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia.
Perwakilan Takmir Masjid Ngadinegaran Yuwono Sri Suwito menjelaskan sejarah bangunan induk Masjid Ngadinegaran dibangun sekitar 1979 dan selesai tahun 1980.
Bagian atap Masjid Ngadinegaran menggunakan arsitektur Jawa dengan atap masjid bersusun tiga.
Baca Juga: UMKM Masjid Nurul Hidayah Kota Jogja, Wujud Nyata Ekonomi Umat
Dia menerangkan atap masjid bersusun tiga, atap atas berbentuk tajuk atau limas piramida sedangkan bawahnya limas terpancung. Puncak atas dihiasi mustaka tapi bukan dengan kubah.
Atap tumpang dan mustaka masjid memiliki makna pencapaian kesempurnaan hidup manusia melalui tahapan kehidupan yakni syariat, tarekat, hakikat, dan ma’rifat.
Atau, dalam tujuan Islamiyahnya adalah iman, Islam, dan ihsan untuk mencapai derajat taqwa.
"Sesuai regulasi yang berlaku arsitektur bangunan di sumbu filosofi antara Panggung Krapyak sampai Kraton Yogyakarta memiliki gaya arsitektur bangunan antara lain tradisional Jawa, tradisional kerayakatan dan atau Indis.
Karena masjid ini (Ngadinegaran) dibuat bertingkat bangunan masjid memadukan gaya arsitektur Jawa untuk bangunan atap dan arsitektur Indis pada bangunan badan dan kaki," jelas Yuwono.
Masjid selesai renovasi
Dalam perkembangannya, masjid tidak dapat menampung semua jamaah terutama di hari Jumat, sehingga perlu dilakukan renovasi. Sekaligus menyesuaikan garis sempadan jalan yang ditetapkan Pemkot Yogyakarta.
Kemudian dilakukan pembangunan renovasi Masjid Ngadinegaran tahap pertama mulai Januari 2024 dan selesai dengan dana sekitar Rp 2,6 miliar serta diresmikan Jumat, 31 Oktober 2025.
Peresmian dihadiri Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir.
Dalam keterangannya, Haedar mengharapkan masjid tersebut bukan hanya sebagai pusat ibadah yang membentuk iman dan takwa.
Tapi juga untuk mendidik anak-anak, dan juga menjadi tempat menyebarkan kebudayaan berbasis pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
"Dan membangun relasi sosial dengan semua warga masyarakat yang berbeda agama,” tegas Haedar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.






