Tekan Angka Stunting di Kota Yogyakarta, Komisi A DPRD DIY Perjuangkan Kenaikan Anggaran BKK

Akurat.co, Jogja - Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto mengatakan, alokasi BKK Dana Keistimewaan untuk program penanganan stunting di Kota Yogyakarta pada 2026 meningkat.
Jika sebelumnya anggarannya Rp 100 juta untuk satu kalurahan/kelurahan, di tahun 2026 naik jadi Rp 120 juta.
Pihaknya terus berupaya untuk mendorong kebijakan pembangunan benar-benar dialokasikan untuk program pro rakyat.
"Termasuk penurunan angka stunting," katanya, Jumat (16/01/2026).
Baca Juga: Selamat! Kalurahan Banyuraden Gamping Sleman Jadi Terbaik II Nasional
Untuk mendukung program pro rakyat di tingkat Kelurahan ini, ada Perda 3/2024 tentang Pemajuan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan dan Kelurahan. Selain itu juga ada Perdais 1 Tahun 2024 tentang Kelembagaan.
Untuk itu harus segera lakukan penguatan kelembagaan di tingkat Kalurahan/Kelurahan.
"Penguatan Kelembagaan di tingkat Kelurahan ini mutlak wajib dilakukan. Salah satunya dengan mendorong segera dilakukan perubahan Perda Perangkat Daerah di Kota Yogya," jelasnya.
Ke depan, perlu segera dibentuk Kelurahan sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tujuannya agar APBD DIY khususnya Dana Keistimewaan dapat dialokasikan secara maksimal di tingkat Kelurahan melalui BKK Kota Yogyakarta.
Karena menurutnya, selama ini Lurah dan jajaran sebagai unsur staf Kemantren (Kecamatan) memiliki keterbatasan kewenangan dalam mengelola anggaran di Kelurahan.
Kurniawan dari Paniradya Kaistimewan DIY mengapresiasi kinerja Lurah dan perangkat di Kota Yogyakarta dalam pelaksanaan dan pelaporan kegiatan penanganan stunting yang telah dialokasikan sebesar Rp 100 juta pada tahun 2025.
"Sejauh ini, angka stunting di Kota Yogyakarta juga menurun. Ini hasil kerjasama semua pihak," ujarnya.
Sedangkan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Yogyakarta Aan Iswanti mengungkapkan, berkat kerja kompak tim pendamping keluarga juga lurah di masing-masing Kemantren serius upayakan penanggulangan stunting berjalan baik.
"Kita rutin dampingi dan lakukan intervensi kasus stunting dan ibu hamil yang alami anemia. Alhamdulillah angka stunting di Yogyakarta turun dari 12 persen menjadi 8,6 persen. Ini hasil kerja kita semua," kata Aan Iswanti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









