Jogja

28 Juta Warga RI alami Gangguan Jiwa, Pakar UMY Ungkap Penyebabnya

M. Mubin Wibawa | 30 Januari 2026, 09:05 WIB
28 Juta Warga RI alami Gangguan Jiwa, Pakar UMY Ungkap Penyebabnya

Akurat.co,Jogja-Data Kementerian Kesehatan RI menyebutkan sekitar 28 juta jiwa warga Indonesia mengalami gangguan jiwa.

Masalah ini mendapat perhatian serius dari pakar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. dr. Warih Andan Puspitasari.

Menurutnya, pernyataan Menkes Budi Sadikin dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung Parlemen RI, Jakarta, Senin (19/1/2026), menjadi penanda bahwa isu kesehatan mental merupakan tantangan serius yang perlu ditangani secara sistematis dan berkelanjutan.

Warih Andan menyampaikan, gangguan jiwa tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal.

Baca Juga: Paling Banyak se-Indonesia, 36 Ribu Warga Jogja Alami Gangguan Jiwa, Dosen UMY Ungkap Cara Mengatasinya

Faktor biologis, seperti ketidakseimbangan neurotransmiter, gangguan fungsi otak, atau trauma pada sistem saraf pusat, dapat berinteraksi dengan faktor psikologis dan sosial.

Tekanan ekonomi, pola asuh, ketahanan mental, dukungan sosial, serta stres kehidupan juga turut meningkatkan risiko gangguan kejiwaan.

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS PKU Muhammadiyah Gamping sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY menjelaskan bahwa spektrum gangguan jiwa sangat luas.

Mulai dari gangguan ringan hingga berat, serta dapat dialami oleh seluruh kelompok usia, dari anak-anak hingga lansia. Setiap kelompok usia memiliki faktor risiko yang berbeda-beda.

Secara epidemiologis, gangguan yang paling banyak dialami masyarakat adalah gangguan kecemasan dan gangguan depresi dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Sementara itu, gangguan jiwa berat seperti gangguan psikotik atau skizofrenia jumlahnya relatif lebih kecil, tetapi dampaknya signifikan sehingga lebih mudah dikenali oleh masyarakat.

“Gangguan mental berat memang lebih mudah terlihat karena dampak perilakunya yang nyata," katanya.

Namun, gangguan kecemasan dan depresi justru jauh lebih banyak dan sering kali tidak tertangani. Perlu dipahami bahwa gangguan jiwa bukanlah bentuk kelemahan individu.

"Ini adalah masalah kesehatan yang dapat dicegah, dideteksi sejak dini, diobati, dan dipulihkan dengan manajemen serta dukungan yang tepat,” tegas sosok yang juga Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Psikiatri UMY ini.

Dalam persoalan penanganan, Warih menyoroti masih timpangnya rasio jumlah psikiater dibandingkan dengan jumlah penduduk.

Akibatnya terjadi belum meratanya akses layanan kesehatan jiwa, terutama di wilayah-wilayah tertentu.

Baca Juga: Tak Pandang Remeh Masalah Kesehatan Mental, UII Dorong Kampus Miliki Kepedulian

“Rasio psikiater dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia masih sangat jauh dari ideal,” ungkap dr. Warih.

Oleh karena itu, ia menilai langkah mendesak yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperkuat upaya promotif dan preventif.

Seperti peningkatan literasi kesehatan jiwa, promosi gaya hidup sehat, manajemen stres, deteksi dini melalui puskesmas, serta penyediaan layanan kesehatan jiwa yang terjangkau dan mudah diakses masyarakat.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.