28 Juta Warga RI alami Gangguan Jiwa, Pakar UMY Ungkap Penyebabnya

Akurat.co,Jogja-Data Kementerian Kesehatan RI menyebutkan sekitar 28 juta jiwa warga Indonesia mengalami gangguan jiwa.
Masalah ini mendapat perhatian serius dari pakar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. dr. Warih Andan Puspitasari.
Menurutnya, pernyataan Menkes Budi Sadikin dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Gedung Parlemen RI, Jakarta, Senin (19/1/2026), menjadi penanda bahwa isu kesehatan mental merupakan tantangan serius yang perlu ditangani secara sistematis dan berkelanjutan.
Warih Andan menyampaikan, gangguan jiwa tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal.
Faktor biologis, seperti ketidakseimbangan neurotransmiter, gangguan fungsi otak, atau trauma pada sistem saraf pusat, dapat berinteraksi dengan faktor psikologis dan sosial.
Tekanan ekonomi, pola asuh, ketahanan mental, dukungan sosial, serta stres kehidupan juga turut meningkatkan risiko gangguan kejiwaan.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS PKU Muhammadiyah Gamping sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UMY menjelaskan bahwa spektrum gangguan jiwa sangat luas.
Mulai dari gangguan ringan hingga berat, serta dapat dialami oleh seluruh kelompok usia, dari anak-anak hingga lansia. Setiap kelompok usia memiliki faktor risiko yang berbeda-beda.
Secara epidemiologis, gangguan yang paling banyak dialami masyarakat adalah gangguan kecemasan dan gangguan depresi dengan tingkat keparahan yang bervariasi.
Sementara itu, gangguan jiwa berat seperti gangguan psikotik atau skizofrenia jumlahnya relatif lebih kecil, tetapi dampaknya signifikan sehingga lebih mudah dikenali oleh masyarakat.
“Gangguan mental berat memang lebih mudah terlihat karena dampak perilakunya yang nyata," katanya.
Namun, gangguan kecemasan dan depresi justru jauh lebih banyak dan sering kali tidak tertangani. Perlu dipahami bahwa gangguan jiwa bukanlah bentuk kelemahan individu.
"Ini adalah masalah kesehatan yang dapat dicegah, dideteksi sejak dini, diobati, dan dipulihkan dengan manajemen serta dukungan yang tepat,” tegas sosok yang juga Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Psikiatri UMY ini.
Dalam persoalan penanganan, Warih menyoroti masih timpangnya rasio jumlah psikiater dibandingkan dengan jumlah penduduk.
Akibatnya terjadi belum meratanya akses layanan kesehatan jiwa, terutama di wilayah-wilayah tertentu.
Baca Juga: Tak Pandang Remeh Masalah Kesehatan Mental, UII Dorong Kampus Miliki Kepedulian
“Rasio psikiater dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia masih sangat jauh dari ideal,” ungkap dr. Warih.
Oleh karena itu, ia menilai langkah mendesak yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperkuat upaya promotif dan preventif.
Seperti peningkatan literasi kesehatan jiwa, promosi gaya hidup sehat, manajemen stres, deteksi dini melalui puskesmas, serta penyediaan layanan kesehatan jiwa yang terjangkau dan mudah diakses masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Prediksi Pertandingan PSIM vs PSM Makassar, Tuan Rumah Terbebani Wajib Menang
- 2K-24 Healthy Run 2026 di Jogja, Boleh Bawa Stroller?
- 3Gaji ASN Lewat KDMP, DPRD DIY Khawatirkan Keamanan Data
- 4Kolaborasi 5 Universitas APTIK di UAJY: Cetak Mahasiswa Ilmu Komunikasi Melek Teknologi AI
- 5Tangan di Saku, Manajer PSIM Iksan Mahar Meminta Maaf
- 6Hadapi PSIM, PSM Makassar Lakukan Persiapan Khusus
- 7Kapolda Baru DIY Bakal Terbitkan Aturan Unjuk Rasa
- 8Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 9Kalah 4 Kali Beruntun, Pelatih PSIM: Wajar Suporter Kecewa dan Marah
- 10Suporter PSIM Minta Van Gastel Dipecat Dalam Waktu 1x24 Jam







