Konferensi Akademi Republikan Bahas Demokrasi Indonesia yang Berada di Persimpangan

Akurat.co, Jogja - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM menggelar konferensi bertajuk 'Masa Depan Demokrasi : Polisi, Militer dan Gerakan Sosial', Selasa (03/02/2026).
Bertempat di Lantai 4, Gedung BB, kampus setempat dan dibuka dengan pidato kunci oleh Rocky Gerung.
Konferensi ini sekaligus menjadi momentum peluncuran Akademi Republikan. Sebuah inisiatif pendidikan politik alternatif bagi anak muda.
"Konferensi ini bertujuan menelusuri kembali akar kekuatan demokrasi Indonesia dalam menghadapi dinamika politik dan perbedaan agenda para aktor, menganalisis dampak kemerosotan demokrasi, membaca peran historis dan kontemporer gerakan sosial dalam menjaga kedaulatan rakyat dan mendorong perubahan pada dua institusi besar yakni Polisi serta Militer," kata Bung Ocha selaku penyelenggara.
Baca Juga: Tekan Kemiskinan di Bawah 2 Digit, Ini Jurus yang Disiapkan Pemkab Bantul
Konferensi ini diharapkan menjadi ruang refleksi, konsolidasi, dan penguatan gerakan sipil dalam menghadapi tantangan demokrasi.
Selain itu, dalam konferensi ini, akan ada launching Akademi Republikan yang hadir sebagai respons atas situasi sosial-politik yang kian mengabaikan prinsip etik bernegara.
Berbagai riset dan indikator politik menunjukkan meningkatnya kekhawatiran terhadap masa depan demokrasi di Indonesia.
Lemahnya penegakan HAM, menyempitnya kebebasan berekspresi, kriminalisasi terhadap anak muda, menguatnya peran militer di ruang sipil, serta minimnya partisipasi publik dalam penyusunan regulasi menjadi tanda kemunduran reformasi.
Baca Juga: Alami Penurunan Drastis, Pemkot Jogja Waspadai Kenaikan Harga Cabai
Menurut Rocky Gerung, situasi ini diperparah oleh lemahnya partai politik dan menguatnya oligarki. Politik elektoral kian menjadi arena transaksi kepentingan, sementara parlemen semakin jauh dari aspirasi konstituen.
"Akibatnya, publik terbiasa pada keputusan-keputusan yang merugikan kepentingan bersama. Kemunduran demokrasi juga berdampak pada kondisi ekonomi nasional, ditandai dengan meningkatnya defisit anggaran, beban utang, melemahnya nilai rupiah, meningkatnya PHK, serta menurunnya kepercayaan pasar," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Ega Rizky: Belum Kepikiran Pensiun, Masih Mau Berkarier Sakmampune
- 3Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 4LKBN Antara Gelar Pameran Fotografi 'Merdeka' di Titik Nol Kilometer Yogya
- 5Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 6Belanja Rp20.000 di Pasar Kota Jogja Bakal Dapat Smartphone
- 7Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 8Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 9Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 10Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya









