5 Fakta Penting Bencana Banjir Bandang dan Longsor di Tancep Gunungkidul, Potensi Susulan dan Relokasi Menggunakan Tanah Sultan

Akurat.co,Jogja-Musibah melanda warga Kelurahan Tancep, Ngawen, Gunungkidul, Selasa (17/2/2026)
Tepatnya di Padukuhan Jono terjadi banjir bandang dan tanah longsor yang menyebabkan 12 kepala keluarga (kk) terdampak. Warga pun harus mengungsi sementara.
Pascakejadian, kerja bakti dilakukan berbagai unsur untuk membersihkan rumah dan lingkungan.
Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Upayakan Relokasi Warga Terdampak Banjir Bandang di Kelurahan Tancep
Sejumlah fakta penting terangkum dari peristiwa musibah ini. Berikut uraiannya:
1. Bupati Gunungkidul meninjau lokasi pada Rabu
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntarinings melakukan tinjauan langsung ke lokasi pasca-bencana tanah longsor di Kalurahan Tancep untuk memastikan langkah penanganan jangka pendek dan jangka panjang bagi warga terdampak, Rabu Pagi, (18/2/2026).
Dalam kunjungan tersebut, bupati menegaskan pentingnya keselamatan warga mengingat lokasi tersebut berada di zona rawan bencana yang telah dipantau selama lebih dari sepuluh tahun.
2. Gotong royong membersihkan puing longsoran
Bupati Endah mengatakan, sebagai langkah jangka pendek, berbagai unsur mulai dari TNI, Polri, Tagana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pekerjaan Umum (PU), hingga masyarakat setempat dikerahkan untuk membersihkan puing-puing longsoran.
3. Potensi longsor susulan
Mengingat kondisi tanah yang masih tidak stabil dan potensi longsor susulan saat hujan lebat, pemerintah daerah memberikan rekomendasi agar rumah-rumah yang terdampak tidak lagi ditinggali.
Bupati meminta jajaran pemerintah desa untuk menyiapkan safety house atau rumah aman bagi warga yang rumahnya tidak layak huni demi alasan keamanan.
Pihak BPBD dan Dinas Sosial juga diinstruksikan untuk menjamin ketersediaan logistik dan makanan bagi warga selama masa darurat.
4. Rencana relokasi warga
Pemkab Gunungkidul mulai mengkaji opsi relokasi bagi warga yang tinggal di titik paling rawan.
Endah menyampaikan, sudah mendapatkan izin dari Ngarso Dalem atau Gubernur DIY, Sri Sultan HB X untuk menggunakan tanah Sultan Ground maupun tanah kas desa bagi warga miskin yang terdampak bencana alam.
Baca Juga: 800 Bencana Menimpa Sleman sejak Awal 2026, Kerugian Miliaran Rupiah
5. Lurah diminta mengedukasi warga
Lurah Tancep dan tokoh masyarakat diminta berperan aktif mengedukasi warga agar bersedia direlokasi demi keselamatan nyawa mereka.
Endah menyampaikn, pasti berat bagi warga meninggalkan tempat tinggal yang sudah ditempati puluhan tahun.
Berdasarkan pantauan di lapangan, longsor dipicu oleh intensitas hujan yang sangat tinggi serta adanya perubahan jalur aliran air di perbukitan.
Kondisi geografis yang dipenuhi material batu di bagian atas perbukitan meningkatkan risiko terjadinya longsoran susulan jika terjadi hujan deras kembali.
Selain rencana relokasi, nupati menekankan pentingnya pelestarian alam sebagai upaya mitigasi jangka panjang.
Pemerintah daerah berencana menggerakkan penanaman tanaman penguat tanah seperti vetiver (akar wangi) dan bambu di wilayah-wilayah yang rawan longsor.
"Karena ini bencana alam, maka kita harus melakukan pelestarian alam. Kita akan merekomendasi penanaman tanaman yang bisa menahan air dan tanah untuk menguatkan struktur lahan," terangnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







