Tingkat Kegemaran Membaca di Kabupaten Sleman Menurun

Akurat.co, Jogja - Terjadi penurunan angka Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) di Kabupaten Sleman.
Di tahun 2024, Kabupaten Sleman berada di posisi kedua di DIY. Setelah Gunungkidul.
Sedangkan tahun 2025, posisi Sleman turun ke peringkat ketiga. Di bawah Kabupaten Kulon Progo (peringkat 1) dan Kabupaten Bantul (peringkat 2).
"Di DIY terjadi penurunan angka TGM yang cukup signifikan. Dari kisaran angka 80-an menjadi 50-an," kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Shavitri Nurmala Dewi, Kamis (05/03/2026).
Baca Juga: Sleman Bakal Gelar PAW di 5 Kalurahan, Mana Saja?
Untuk tingkat literasi masyarakat, dari beberapa indikator menunjukkan tren positif dan melampaui target. Dari 54,05 pada tahun 2024 menjadi 67,18 pada tahun 2025.
Sedangkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), pada tahun 2024 Sleman berada di peringkat ketiga. Dan di tahun 2025 turun satu peringkat ke peringkat keempat.
Menanggapi data tersebut, DPK melakukan konsolidasi. Ada empat pilar yang dilakukan.
1. Penguatan Perpustakaan Desa/Kalurahan
Transformasi perpustakaan bukan lagi sekadar tempat meminjam buku, tapi menjadi co-working space dan pusat pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga: Sleman Petakan 7 Jalur Alternatif untuk Mudik Lebaran 2026
2. Digitalisasi Kearsipan
Modernisasi sistem kearsipan daerah agar memori kolektif Sleman tetap terjaga dan mudah diakses oleh generasi mendatang.
3. Sleman Membaca (E-Library)
Optimalisasi aplikasi perpustakaan digital untuk menjangkau wilayah pelosok dan generasi milenial/Z.
4. Literasi Berbasis Komunitas
Kolaborasi aktif dengan pegiat literasi, sekolah, dan taman bacaan masyarakat (TBM) di seluruh kapanewon.
"Dalam perjalanan menuju pionir literasi masa depan, terdapat tantangan nyata yang harus dihadapi. Salah satunya disrupsi digital. Bagaimana mengalihkan ketergantungan pada gawai (gadget) dari sekadar konsumsi konten pasif menjadi produksi konten kreatif dan informatif," jelas Evi.
Baca Juga: Angka Kemiskinan Menurun, Kapanewon Prambanan Sleman Andalkan Sektor Pariwisata
Ada juga kesenjangan akses, yakni memastikan fasilitas literasi berstandar tinggi merata hingga ke tingkat padukuhan. Tantangan berikutnya adalah relevansi arsip. Bagaimana mengubah stigma arsip dari "tumpukan kertas lama" menjadi aset strategis untuk pengambilan kebijakan dan riset masa depan.
"Kecakapan Baru atau tantangan literasi juga tidak dapat dihindari. Dimana masa depan mencakup kemampuan data, AI, dan pemilahan informasi (anti-hoax) di tengah banjir informasi," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









