Jogja

Di Balik Parade 1.000 Meter Merah Putih di Malioboro, Ada Pesan Kaum Disabilitas

Tegar Wahyudi | 14 Agustus 2026, 10:04 WIB
Di Balik Parade 1.000 Meter Merah Putih di Malioboro, Ada Pesan Kaum Disabilitas
Momen kegiatan membentangkan bendera merah putih di Malioboro Yogyakarta. - Akurat.co/Atiek Widyastuti

Akurat.co,Jogja-Masyarakat Kota Jogja dimeriahkan dengan kegiatan membentangkan bendara merah putih sepanjang 1.000 meter di kawasan Malioboro, Rabu (12/8) sore.

Ribuan peserta turut ambil bagian dengan mengangkat bendera di atas kepala. Peserta berangkat dari Kantor DPRD DIY menuju Titik Nol Kilometer.

Parade tersebut juga melibatkan berbagai organisasi dan kelompok masyarakat.

Baca Juga: UAJY dan Gita Wirjawan Bahas Masa Depan dan Peran Strategis Asia Tenggara

Di antaranya unsur Nahdlatul Ulama melalui Banser dan Fatayat, Muhammadiyah, komunitas masyarakat, hingga berbagai kelompok lainnya.

Koordinator Kirab, Nurholis mengatakan, bendera merah putih sepanjang 1.000 meter yang dibawa sekitar 1.000 peserta menjadi simbol sederhana tetapi kuat.

Ribuan orang harus saling menjaga agar bentangan Merah Putih tetap berada di atas kepala dan tidak jatuh ke tanah.

Menurutnya, kondisi tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat yang membutuhkan kebersamaan.

Setiap orang memiliki peran untuk menjaga agar persatuan tetap berdiri dan keberagaman tidak berubah menjadi perpecahan.

Pesan inklusi untuk masyarakat Indonesia

Di balik aktivitas tersebut, keterlibatan kaum disabilitas seolah mengirim pesan.

Nurholis menyampaikan, keterlibatan berbagai elemen tersebut menjadi gambaran bahwa semangat inklusi dan persatuan dapat dibangun dengan mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam satu ruang yang sama.

Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo yang juga hadir dalam kegiatan menegaskan, bahwa inklusi bukan sekadar memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas, tetapi memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, berkarya, berprestasi, dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Hasto menyampaikan, pembangunan manusia tidak cukup hanya dilakukan dengan membangun sekolah, fasilitas, maupun menyediakan berbagai program.

Pemerintah dan seluruh elemen masyarakat juga harus membangun lingkungan yang tidak meninggalkan siapa pun.

Anak-anak penyandang disabilitas, menurut Hasto, memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan berkualitas. Mereka juga memiliki hak untuk bermain, berkesenian, berolahraga, bekerja, berkarya, dan menunjukkan prestasi.

“Karena itu, tugas kita bukan melihat keterbatasannya. Tugas kita adalah memastikan bahwa lingkungan di sekitarnya tidak menjadi keterbatasan tambahan,” katanya.

Semangat inklusi, lanjutnya, juga harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Logo 270 HUT Kota Jogja Dikenalkan, 120 Kegiatan Digelar selama 2 Bulan

Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan, kota budaya, sekaligus kota yang kehidupan masyarakatnya sangat dekat dengan ruang publik, memiliki tanggung jawab untuk memastikan ruang-ruang tersebut dapat dinikmati seluruh warga.

"Apalagi kawasan Malioboro yang juga meruapakan kawasan budaya, ruang pendidikan, fasilitas pelayanan publik, tempat wisata, hingga ruang sosial, harus terus diarahkan agar semakin ramah, aman, nyaman, dan mudah diakses oleh semua warga, termasuk penyandang disabilitas," bebernya dikutip dari laman resmi Pemkot Jogja.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.