5 Fakta Menarik Betran Yunior, Anak Penjual Es Teh yang Raih IPK Tertinggi UNY 2025

Akurat.co,Jogja-Kisah menarik dilahirkan dari wisuda Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) periode Desember 2025.
Salah satu wisudawannya, Betran Yunior memiliki kisah hidup menginspirasi. Dari anak penjual es teh di pinggir jalan, Betran menjadi lulusan dengan IPK tertinggi, 3,98.
Bagaimana fakta menarik Betran selengkapnya? Berikut kisahnya, dilansir dari laman resmi UNY:
1. Orangtua Betran jualan es teh di sekolah
Betran tumbuh dari keluarga sederhana di Palembang. Ayah dan ibunya, Zulkarnain dan Wanida, tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, keduanya pernah berjualan es teh di sekolah.
Meski hanya penjual es teh, orangtua Betran menganggap pendidikan sebagai jalan perubahan.
Baca Juga: Di Hadapan Mahasiswa UNY, Wabup Kulon Progo Pamer Potensi Wilayah yang Tak Dimiliki Daerah Lain
“Tugasmu adalah belajar, biar pintar, tidak usah pikirkan yang lain,” pesan sang ayah ke anak lelakinya.
2. Modal kesungguhan
Betran menyadari bahwa kesungguhan adalah satu-satunya modal yang ia miliki.
Ia tidak memiliki banyak fasilitas, tetapi ia memilih untuk hadir sepenuhnya dalam setiap proses belajar. Ketekunan menjadi kunci.
Setiap tugas dikerjakan dengan maksimal, setiap penjelasan dosen disimak dengan saksama, dan setiap kesempatan diskusi dimanfaatkan sebaik mungkin.
“Keaktifan di kelas itu sangat membantu. Kalau kita sudah paham di kelas, waktu belajar di luar jadi lebih efisien,” tutur sarjana Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNY ini.
3. Mendapatkan beasiswa
Perjalanan akademik Betran juga diperkuat oleh dukungan beasiswa. Sejak SMA, ia telah merasakan manfaat pendidikan berbasis afirmasi melalui beasiswa di salah satu SMA terbaik di Sumatra Selatan berbasis asrama, tanpa biaya sedikit pun.
Selama kuliah di UNY, ia kembali mendapat kepercayaan melalui Beasiswa KIP-Kuliah. Bantuan tersebut bukan hanya meringankan beban finansial, tetapi juga menjadi kebanggaan karena ia dapat menempuh pendidikan tanpa membebani orangtua.
4. Alami momen berat saat awal di Yogyakarta
Momen terberat justru datang di awal masa kuliah. Datang ke Yogyakarta seorang diri, tanpa keluarga dan tanpa kenalan, membuat rasa asing dan kesepian sempat menyelimuti.
Baca Juga: Keren, UGM dan UNY Masuk Dalam 10 Kampus Paling Berprestasi Di Indonesia, Nomor Berapa Saja?
Namun perlahan, dukungan teman-teman seperjuangan menjadi obat. Lingkar pertemanan yang saling menguatkan itulah yang menemaninya hingga akhir masa studi.
5. Ingin berkarier di industri kreatif
Bagi alumni SMA Negeri Sumatra Selatan ini, wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan. Ia adalah simbol pembuktian.
Ke depan, sosok Kelurahan Duku, Kecamatan Ilir Timur Tiga, Kota Palembang tersebut bercita-cita meniti karier di industri kreatif. Selama kuliah, ia telah membekali diri melalui berbagai program magang dan kegiatan sukarelawan untuk mengenal dunia profesional secara nyata.
Menutup kisahnya, Betran menyampaikan pesan sederhana namun bermakna bagi sesama mahasiswa UNY.
“Duduk di bangku kuliah adalah sebuah privilese. Nikmati prosesnya, perbanyak teman, dan eksplor sebanyak mungkin pengalaman” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









