Jogja

Suka Diabaikan Pendaki, Dokter UMY Berikan Tips Mudah Kenali Gejala Hipotermia

Haris Ma'ani | 24 Juni 2026, 09:05 WIB
Suka Diabaikan Pendaki, Dokter UMY Berikan Tips Mudah Kenali Gejala Hipotermia
Potret ilustrasi naik gunung. (foto: unsplash/@mikemarkov)

Akurat.co,Jogja-Di balik tren mendaki gunung, ada risiko kesehatan yang bisa berakibat fatal jika tak dipahami, hipotermia.

Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi dan Terapi Intensif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Yusda Kris Sari Wijaya menjelaskan bahwa hipotermia merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh turun hingga di bawah 35 derajat Celsius.

Kondisi tersebut menyebabkan berbagai organ tubuh tidak dapat bekerja secara optimal sehingga berpotensi mengancam keselamatan jiwa.

Baca Juga: 5 Fakta Menarik Mukmin Juara SUCI 12, Alumni UMY yang Sempat jadi Marbot

Ketika suhu tubuh menurun, organ-organ vital seperti jantung akan mulai mengalami gangguan.

Akibatnya, kemampuan jantung dalam memompa darah menjadi tidak maksimal.

Pada saat yang sama, tubuh sebenarnya menggunakan cadangan energi untuk menghasilkan panas melalui mekanisme menggigil.

Namun, kondisi di lapangan sering kali memperburuk keadaan ini.

“Tubuh membutuhkan suhu yang optimal agar seluruh organ dapat bekerja maksimal. Ketika suhu tubuh turun, fungsi jantung, otot, hingga sistem hormonal ikut terdampak," katanya dikutip dari laman resmi UMY, Rabu (24/6/2026).

Kenali Gejala Hipotermia

Dr. Yusda menjelaskan bahwa gejala hipotermia sering kali disalahartikan sebagai kelelahan biasa oleh sesama pendaki.

Padahal, seseorang yang mengalami hipotermia akan menunjukkan tanda-tanda khusus.

Di antaranya adalah kebingungan, sulit berkonsentrasi, mengantuk berlebihan, kehilangan orientasi, hingga merasa tidak mampu bergerak.

Jika kondisi sudah masuk ke tahap yang lebih berat, korban bahkan dapat mengalami penurunan kesadaran.

“Ketika ada pendaki yang tiba-tiba blank, tersesat, sangat lemas, atau mengantuk berlebihan, kondisi tersebut sebenarnya terjadi karena alasan ilmiah," ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa hipotermia yang tidak segera mendapat penanganan dapat memicu gangguan berantai.

Baca Juga: 5 Fakta Penting Rektor UAD dan UMY Kritik Jalur Mandiri PTN, Mahasiswa Sudah Bayar Pilih Mundur

Fungsi otak, otot, hingga ginjal akan terus menurun.

Pada akhirnya, kondisi ini berpotensi menyebabkan kegagalan organ yang berujung fatal.

“Ketika hipotermia dibiarkan, satu per satu organ akan terdampak. Fungsi otak menurun, otot semakin lemah, dan ginjal mengalami gangguan," jelasnya.

Kondisi ini akan terus berlanjut hingga dapat menyebabkan kematian.

Untuk itu dr. Yusda mengingatkan agar antusiasme menikmati alam harus sejalan dengan pengetahuan.

Pendaki wajib memiliki pemahaman yang memadai mengenai risiko kesehatan selama perjalanan.

Menurutnya, pendakian tidak hanya membutuhkan kesiapan fisik semata.(*)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.