Jogja

Indonesia Disebut Negara Termiskin Kedua Dunia di Bawah Zimbabwe, Pakar UGM Ungkap Fakta Sebenarnya

Haris Ma'ani | 17 Februari 2026, 09:05 WIB
Indonesia Disebut Negara Termiskin Kedua Dunia di Bawah Zimbabwe, Pakar UGM Ungkap Fakta Sebenarnya

Akurat.co,Jogja-Sebuah konten media sosial menyebutkan Indonesia sebagai negara termiskin kedua dunia.

Konten berupa infografis tersebut menyampaikan informasi persentase persentase kemiskinan Indonesia 60,3 persen di bawah Zimbabwe sebesar 84,2 persen.

Konten mengeklaim data bersumber dari World Bank.

Tentu saja unggahan tersebut menimbulkan persepsi negatif tentang ekonomi Indonesia. Tapi benarkah demikian?

Baca Juga: Bantul jadi Wilayah dengan Penduduk Miskin Terbanyak di DIY

Pakar UGM menyanggah informasi tersebut

Unggahan ini juga menggelitik pakar dari UGM.

Wisnu Setiadi Nugroho, Ph.D, dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada turut memberi perhatian soal unggahan ini.

Dikutip dari laman resmi UGM, sebagai ilmuwan yang concern mengkaji bidang Pengentasan Kemiskinan dan Ketimpangan/EQUITAS (Equitable Transformation for Alleviating Poverty and Inequality), ia menyanggah informasi yang ada di unggahan tersebut.

Menurutnya pihak World Bank tidak pernah mengeluarkan dokumen baik melalui Global Poverty Line, Poverty and Inequality Platform (PIP), maupun Macro Poverty Outlook yang menyebutkan Indonesia sebagai negara termiskin kedua di dunia.

“Narasi tersebut tidak berasal dari World Bank melainkan dari kesalahan dalam memahami dan mengonversi konsep daya beli,” ujarnya.

Wisnu menjelaskan pihak World Bank mengukur kemiskinan internasional menggunakan garis kemiskinan berbasis PPP atau parisat daya beli, misalnya USD 2,15 PPP per kapita per hari, dan angka ini tidak boleh dikonversi menggunakan kurs pasar (current exchange rate).

Baca Juga: Pemkab Gunungkidul Pasang Stiker Keluarga Miskin Penerima Bansos, Bupati Ungkap Alasan

Meski begitu, banyak infografis di media sosial melakukan kesalahan seperti nilai USD PPP dikalikan dengan kurs pasar rupiah (±Rp16.000/USD).

Padahal, konversi yang benar harus menggunakan PPP conversion factor Indonesia, yang besarnya sekitar Rp4.700–Rp5.300 per USD PPP.

“Akibatnya, garis kemiskinan dibesarkan hampir tiga kali lipat. Jumlah penduduk miskin menjadi sangat terdistorsi hingga muncul klaim ekstrem seperti lebih dari 60 persen penduduk Indonesia miskin,” terangnya.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Haris Ma'ani
H