Kisah Pasutri di Bantul, 40 Tahun Setia Tekuni Usaha Pembuatan Tape Singkong

Akurat.co,Jogja-Samsudin (64) dan istrinya Tukul (62) adalah cerita tentang kesetiaan yang tak lekang oleh waktu.
Selain setia menjaga kelanggengan rumah tangga, mereka juga setia dengan profesi sebagai pembuat tape singkong.
Usaha tersebut sudah dijalani mereka 40 tahun lamanya.
Baca Juga: Mahasiswa UGM Ciptakan Kotak Penyimpanan untuk Pedagang UMKM tanpa Listrik
Awalnya, usaha ini bermula saat mertua Samsudin menanam singkong.
Ayah mertuanya menanam singkong tersebut karena tak memiliki pekerjaan lain.
Mertuanya mengolah singkong hasil panen menjadi tape.
"Awalnya coba-coba membuat tape, lalu dijual ke pasar," tutur Samsudin.
Dari sanalah, ia kemudian meneruskan usaha tersebut sampai hari ini.
"Lalu mulai tahun 1986 saya sama istri meneruskan membuat tape singkong sampai sekarang," terangnya.
Proses membuat tape, dikatakan Samsudin cukup praktis dan sederhana.
Baca Juga: Putus sejak 2017, Jembatan yang Hubungkan 2 Kelurahan di Bantul Kembali Dibangun
Seperti disaksikan dari Instagram @pemkabbantul, singkong kuning awalnya direbus dahulu sampai setengah matang.
Menurut Samsudin, singkong kuning paling bagus dibuat tape ketimbang singkong putih yang malah akan lembek.
Setelah perebusan setengah matang, Samsudin merendam singkong tersebut dengan air selama satu malam.
Setelah perendaman berlanjut dengan perebusan lagi selama setengah jam.
Setelah direbus setengah jam, singkong kemudian dijereng dan ditaburi ragi. Kemudian ditutup daun dan kain.
Samsudin menceritakan butuh waktu empat hari proses pembuatan sampai bisa dijual ke pasar.
Baca Juga: Platfrom SiBakul Pemda DIY jadi Inspirasi Pengembangan UMKM Pariwisata Nasional
Sejak dulu sampai sekarang, Samsudin dan istrinya hanya memproduki sebanyak 70-80 kilogram.
Meski banyak permintaan, ia tak pernah sekalipun terbersit menambah kapasitas produksi.
"Padahal banyak permintaan. Kenapa? Karena menyesuaikan kemampuan, apalagi sudah tua," ujarnya.
Tape produksi Samsudin dijual Rp10.000 per kilogramnya. Untuk pemasaran, biasanya sudah ada pelanggan yang mengambilnya.
Selain itu, Samsudin biasanya menjualnya ke Pasar Niten atau Pasar Bantul.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





