Tanpa Bicara dan Tak Beralas Kaki, Ribuan Warga Yogyakarta Ikuti Lampah Budaya Mubeng Beteng

Akurat.co, Jogja-Ribuan masyarakat Yogyakarta mengikuti kegiatan Lampah Budaya Mubeng Beteng dalam rangka memperingati Tahun Baru Jawa Dal 1959, Jumat (27/6) dini hari wib.
Lampah Budaya Mubeng Beteng ini dilakukan dengan tapa bisu atau tanpa berbicara sebagai sarana introspeksi atau refleksi diri atas apa yang telah dilakukan atau terjadi setahun yang lalu.
Warga juga berdoa serta berharap akan masa mendatang yang lebih baik dari sebelumnya, sembari berjalan kaki mengelilingi benteng keraton
Pelaksanaan Lampah Budaya Mubeng Beteng diawali dengan pembacaan tembang macapat berisi doa dan pujian di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti, Kompleks Kamandungan Lor, Keraton Yogyakarta, selepas Isya, pada Kamis (26/6) malam.
Baca Juga: Menikmati Senja Romantis di Bukit Bintang Jogja, Spot Wajib Buat Healing
Kemudian, setelah sekitar pukul 00.00 WIB, seusai lonceng keraton berbunyi 12 kali, rombongan mulai berjalan kaki mengelilingi Beteng Keraton atau Beteng Baluwarti sejauh kurang lebih 5 kilometer.
Lampah Budaya Mubeng Beteng merupakan salah satu karya budaya yang telah diakui secara nasional karena telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Indonesia dari DIY.
Irfan, salah seorang warga yang mengikuti kegiatan mengaku mendapatkan pengalaman spiritual luar biasa setelah mengikuti kegiatan.
"Kita kembali dibawa untuk memaknai kehidupan ini secara lebih penuh syukur lagi," ungkapnya, yang sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri mengikuti kegiatan.
Agung, warga yang tinggal di alun-alun selatan mengatakan, kegiatan tersebut membuatnya merasakan betapa berbudayanya Jogja.
Baca Juga: Yuk Berburu dan Belajar Bikin Gerabah ke Desa Wisata Kasongan
"Jujur ini adalah budaya yang harus dilestarikan. Yogyakarta ada karena tradisinya," katanya.
Mubeng Beteng menjadi bagian dari upaya pelestarian adat istiadat dan tradisi DIY yang sarat nilai-nilai spiritual.
Lantaran tradisi ini memiliki nilai penting refleksi dan kontemplasi kehidupan manusia untuk selalu ingat dan bersyukur kepada Tuhan, serta menjadi bahan evaluasi perbaikan di tahun berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 3Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 4Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 5Donatsur, Donat Lembut Jogja yang Selalu Antre Pembeli
- 6Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 79 Tahun KAMAJAYA Scholarship, Telah Salurkan Lebih dari Rp 5 M untuk Beasiswa Mahasiswa UAJY
- 8FTI UAJY Perkuat Kemampuan Komunikasi antara Dosen dengan Mahasiswa
- 9Profil Gelandang Asing PSS Moussa Bagayoko, Pernah Main di Turki, Israel, hingga Venezuela
- 10Nasib Kapten PSIM Musim Lalu Reva Adi, Jalani Pinjaman ke Klub Kalimantan








