Jogja

5 Fakta Menarik Mubeng Beteng, Dilakukan Tanpa Bicara, Inspirasi Perjalanan Suci Hijrah Nabi Muhammad Saw

Yudi Permana | 27 Juni 2025, 07:05 WIB
5 Fakta Menarik Mubeng Beteng, Dilakukan Tanpa Bicara, Inspirasi Perjalanan Suci Hijrah Nabi Muhammad Saw

Akurat.co, Jogja-Lampah Budaya Mubeng Beteng Yogyakarta adalah tradisi yang sudah dilakukan setiap tahun.

Prosesi ini merupakan perayaan yang diperingati ketika memasuki tahun baru, baik tahun Hijriah maupun tahun baru Jawa.

Pada 2025, ribuan warga mengikuti kegiatan yang semakin hari semakin meneguhkan Jogja sebagai kota Budaya.

Sejumlah fakta menarik tersaji dari aktivitas yang bakal menjadi langka di tengah arus informasi dan teknologi yang semakin kuat ini.

Baca Juga: Tanpa Bicara dan Tak Beralas Kaki, Ribuan Warga Yogyakarta Ikuti Lampah Budaya Mubeng Beten

Dirangkum dari Herman Sinung Janutama, “Mubeng Beteng Karatan Ngayogyakarta Hadiningrat” dalam Goresan Peradaban #1 berikut sejumlah fakta menariknya:

1. Berjalan mengikuti lintasan tertentu

Prosesi ini merupakan bagian dari tirakat lampah ratri, yakni munajat atau madrawa ke hadirat Allah SWT dengan berjalan mengikuti lintasan tertentu.

Di Yogyakarta ada beberapa lintasan yang digunakan lampah ratri.

Yaitu, lintasan dari pojok beteng wetan Karaton sampai ke pantai Parangkusumo Bantul.

Kedua, lintasan mengikuti kontur kelima masjid pathok nigari Karaton Yogyakarta. Ketiga, lintasan jagan njaban peninggalan Karaton Kotagede.

Ada juga yang melaksanakan lampah ratri dengan keliling desa atau kampong. Namun, yang paling popular adalah lampah ratri dengan mengelilingi beteng Karaton Yogyakarta.

2. Dulunya upacara resmi keraton

Prosesi ini dahulunya merupakan upacara resmi dari Karaton atau upacara kenegaraan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dilaksanakan atas perintah dalem Sri Sultan Hameng Kubuwono yang bertahta dan dilaksanakan oleh para abdi dalem.

Seiring waktu, mubeng beteng dilaksanakan oleh masyarakat dan komunitas abdi dalem.

Baca Juga: Menikmati Senja Romantis di Bukit Bintang Jogja, Spot Wajib Buat Healing

3. Terinspirasi perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw

Prosesi Mubeng Benteng Karatan Ngayogyakarta Hadiningrat terinspirasi oleh perjalanan suci hijrah dari Mekkah-Madinah oleh rombongan Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan yang penuh keprihatinan dan penderitaan melintasi lautan pasir yang sangat panas tanpa menggunakan alas kaki.

Suasana tersebut yang kemudian menjadi landasan peringatan tahun baru di Jawad an Nuswantara sebagai laku prihatin.

4. Dilaksanakan tanpa bicara juga tanpa alas kaki

Pelaksanaan lampah juga dilaksanakan dengan tapa bisu atau tanpa berbicara dan juga tanpa menggunakan alas kaki.

Jadi sangat berbeda suasana kejiwaannya dengan peringatan tahun baru masehi yang dirayakan dengan pesta pora dan huru-hara.

Sementara mubeng banteng menciptakan suasana yang khidmat, senyap dan keramat untuk merefleksikan diri selama satu tahun sebelumnya.

Baca Juga: Dusun Wotawati, Dusun Unik yang Punya Fenomena Aneh di Gunung Kidul

5. Ditandai bunyi lonceng 12 kali

Dalam pelaksanaan 2025, Lampah Budaya Mubeng Beteng diawali dengan pembacaan tembang macapat berisi doa dan pujian di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti, Kompleks Kamandungan Lor, Keraton Yogyakarta, selepas isya, pada Kamis (26/6) malam.

Kemudian, setelah sekitar pukul 00.00 wib, seusai lonceng keraton berbunyi 12 kali, rombongan mulai berjalan kaki mengelilingi Beteng Keraton atau Beteng Baluwarti sejauh kurang lebih 5 kilometer.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.