3 Juta Kendaraan Masuk DIY Selama Nataru, Transportasi Jogja Harus Segera Berbenah

Akurat.co, Jogja - Dinas Perhubungan (Dishub) DIY mencatat, lebih dari 3 juta kendaraan masuk DIY selama masa Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 kemarin.
Jumlah tersebut terpantau di 10 titik pintu masuk. Kemacetan panjang terpantau di jalur yang mengarah ke Kota Yogyakarta.
Terutama di pusat wisata. Seperti Malioboro, Tugu Pal Putih hingga kawasan Keraton. Keberadaan parkir liar yang menjamur di berbagai sudut kota menjadi pemandangan yang berulang.
Dari 3 juta kendaraan tersebut, tentu saja didominasi kendaraan pribadi. Di satu sisi, angkutan umum semakin tersisih dan tidak menjadi pilihan utama wisatawan maupun warga.
Baca Juga: Lebih dari 400 Ribu Wisatawan Pilih Sleman untuk Liburan Akhir Tahun
"Kemacetan pada dasarnya bukan hal yang baru. Ketika ada long weekend 3-4 hari saja, sejumlah ruas jalan di Yogya sudah terpantau kemacetan," kata Pakar Transportasi UGM, Zudhy Irawan, Selasa (06/01/2026).
Kemacetan tersebut secara tidak langsung menguak fakta, jika sistem transportasi Yogyakarta yang belum siap menampung lonjakan mobilitas dalam skala besar.
Dan selama ini persoalan utama transportasi di Yogyakarta bukan semata soal kemacetan musiman. Melainkan belum adanya sistem transportasi yang tertata, terintegrasi dan berpihak pada angkutan umum.
Menurutnya, kondisi transportasi di Yogyakarta masih berada dalam situasi yang carut marut. Kebijakan yang tambal sulam, infrastruktur yang tidak saling terhubung, serta orientasi yang masih terlalu memanjakan kendaraan pribadi.
Baca Juga: KAI Daops 6 Yogyakarta Layani Lebih Dari 1 Juta Penumpang Selama Nataru
Lonjakan wisatawan, kata Zudhy, hanyalah pemicu yang memperlihatkan masalah struktural yang sudah lama ada. Ketika jutaan orang bergerak bersamaan menuju ruang kota yang kapasitas jalannya terbatas, sistem yang rapuh itu langsung kolaps.
Di banyak kota wisata dunia, pemerintah melakukan penguatan angkutan massal sebagai antisipasi lonjakan wisatawan. Termasuk kebijakan pembatasan kendaraan pribadi di pusat kota.
Sedangkan di Yogyakarta, pusat kota masih sangat mudah diakses oleh mobil dan motor pribadi. Imbasnya beban lalu lintas menumpuk di titik yang sama.
Baca Juga: KAI Daops 6 Yogyakarta Layani Lebih Dari 1 Juta Penumpang Selama Nataru
"Kemacetan tidak hanya menjadi soal kenyamanan. Tapi juga berdampak pada produktivitas warga, kualitas lingkungan," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Warga Sleman Jangan Panik! Sirine EWS Merapi Bakal Berbunyi Serentak 17 Agustus, Ini Alasannya
- 2Ega Rizky: Belum Kepikiran Pensiun, Masih Mau Berkarier Sakmampune
- 3LKBN Antara Gelar Pameran Fotografi 'Merdeka' di Titik Nol Kilometer Yogya
- 4Dari Posko NTT, Dirut PLN Pastikan Pasokan Listrik Aman selama Pelaksanaan HUT ke-81
- 5Lansia Hilang Saat Cari Rumput di Hutan Pathuk Tritis Sleman
- 6Tangan Kroniyah Gemetar Saat Terima Kunci Rumah, Ini Sebabnya...
- 7Belanja Rp20.000 di Pasar Kota Jogja Bakal Dapat Smartphone
- 8Dampak El Nino, Status Siaga Darurat Kekeringan Sleman Berpotensi Diperpanjang
- 9Melihat Tradisi Sedekah Jageran yang Sudah Berlangsung 16 Tahun Lamanya
- 10Diikuti 1.000 Peserta, Pengibaran Bendera Merah Putih di Laut Selatan Berlangsung Aman









