Jogja

1.489 Angka Perceraian di Sleman, Didominasi Komunikasi yang Tidak Berjalan Baik

Atiek Widyastuti | 12 April 2026, 12:21 WIB
1.489 Angka Perceraian di Sleman, Didominasi Komunikasi yang Tidak Berjalan Baik
Ilustrasi perceraian. (Freepik)

Akurat.co, Jogja - Sepanjang 2025, angka perceraian di Kabupaten Sleman mencapai 1.489 kasus. Data ini berdasarkan dari Pengadilan Agama (PA).

Dari 17 kapanewon yang ada, Depok menyumbang angka tertinggi dengan 165 kasus.

Kapanewon Gamping dengan 125 kasus, Mlati dengan 109 kasus dan Ngaglik dengan 108 kasus.

Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sleman Novita Krisnaeni, 84 persen penyebab perceraian karena komunikasi yang tidak baik berupa perselisihan dan pertengkaran.

Baca Juga: Sleman Catat 112 Pernikahan Dini, Kehamilan Tak Diinginkan Mendominasi

"Faktor lain karena salah satu pihak meninggalkan pasangannya dengan 8,42 persen dan 5,29 persen karena alasan ekonomi," ungkapnya, Minggu (12/04/2026).

Sejumlah program terus digelar oleh DP3AP2KB Sleman guna menekan angka perceraian. Diantaranya Program Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak.

Khusus program Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga setidaknya ada delapan fungsi keluarga menjadi hal utama dan segera disosialisasikan kepada masyarakat.

Seperti fungsi agama, fungsi pembinaan lingkungan, fungsi ekonomi, fungsi reproduksi, fungsi sosial budaya, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi cinta kasih, serta fungsi perlindungan.

Baca Juga: Fokus Pengembangan SDM, Kadin Perkuat Sinergi dengan Pemkab Sleman

Selain itu, Dinas P3AP2KB Sleman telah menghadirkan bentuk pelayanan langsung kepada Masyarakat yakni Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Kesengsem Sleman.

Di sini disediakan layanan konseling gratis bagi anak, remaja dan keluarga.

"Layanan ini bertujuan untuk membantu masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan keluarga, termasuk pencegahan pernikahan usia dini melalui pendekatan edukatif dan psikologis," ungkapnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.