UAJY Dorong Peran Perempuan Adat Sumba Timur dalam Perumusan Kebijakan Berkelanjutan

Akurat.co, Jogja - Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bekerja sama dengan University of Huddersfield, UK, The Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Solidaritas Perempuan dan Anak (SOPAN) Sumba menyelenggarakan 'Workshop Penguatan Keterlibatan Perempuan Desa dalam Perumusan Kebijakan Ekonomi Berkelanjutan' di Waingapu Sumba Timur Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi perempuan adat untuk menyuarakan masalah, tantangan, serta gagasan mereka secara langsung kepada pemerintah daerah dalam konteks perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Workshop ini merupakan bagian dari penelitian “Her Land, Her Voice: Co-Creating Inclusive Climate Policies and Capacity Pathways with Indigenous Women in East Sumba, Indonesia”.
Penelitian sosial ini didukung hibah dari The University of Huddersfield Policy Support Fund dengan tim peneliti dari UK yakni Dr Jialin Wu (University of Huddersfield).
Baca Juga: Penerima Asal Timor Leste Ini Jadi Perwakilan Wisudawan untuk Sambutan pada Wisuda UAJY
Dari Indonesia ada Prof Gregoria Arum Yudarwati bersama Pupung Arifin dari UAJY. Ada Dominggus Elcid Li selaku Director of IRGSC (The Institute of Resource Governance and Social Change) dan tim dari SOPAN dengan pendampingan dari Prof Emeritus Anne Gregory dari University of Huddersfield, UK.
Prof Arum menegaskan, perempuan adat memiliki posisi yang sangat penting karena mereka mengalami secara langsung dampak perubahan iklim dalam kehidupan sehari-hari.
“Perempuan adat, mereka yang pertama merasakan dampak krisis iklim dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga, ekonomi, pertanian dan pangan. Tetapi sering kali mereka tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan kebijakan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (02/03/2026).
Dalam pelaksanaannya, perempuan adat menyampaikan berbagai persoalan mendasar. Mulai dari keterbatasan akses air bersih akibat musim hujan yang semakin pendek, dampak perubahan iklim terhadap kesehatan keluarga, pertanian, peternakan, hingga beban kerja domestik.
Baca Juga: UAJY Perkuat Literasi Teknologi Digital Melalui Seminar Web3 Week Asia 2026
Isu utama yang paling banyak disampaikan perempuan adat adalah persoalan air. Akses air semakin sulit karena kualitas dan intensitas hujan hanya berlangsung sekitar tiga bulan dalam setahun.
"Air menjadi kebutuhan paling mendasar dan dampaknya sangat luas, mulai dari kesehatan, pertanian, peternakan, hingga kebutuhan rumah tangga,” ujar Pupung.
Persoalan lain yang mengemuka adalah tantangan pertanian berkelanjutan. Lahan pertanian sering kali rusak karena tanaman dimakan ternak. Perempuan adat menekankan pentingnya ketersediaan jenis bibit yang sesuai dengan kondisi mikro iklim di wilayah mereka.
Terkait aspek ekonomi Pupung menyampaikan, perempuan adat sebenarnya memiliki banyak gagasan. Pengembangan ekonomi lokal masih terbatas. Meskipun ada potensi seperti kacang-kacangan, pengembangannya belum optimal.
Baca Juga: Maba UAJY Belajar Budaya Jawa, Ada Jemparingan hingga Joged Mataraman
“Padahal, perempuan adat memiliki ide-ide ekonomi yang kuat dan kontekstual dengan kondisi lokal,” tuturnya.
Kepala Bappeda Sumba Timur Zainal Abidin Abbas mengungkapkan, komitmen pemerintah daerah terhadap hasil penelitian ini ditunjukkan melalui tindak lanjut konkret.
Pemkab Sumba Timur mendukung penuh upaya penguatan kapasitas perempuan adat agar dapat terlibat aktif dalam proses perencanaan dan pengambilan kebijakan pembangunan daerah,” ujarnya.
Bahkan, perwakilan perempuan adat dan komunitas lokal diundang secara resmi untuk terlibat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang dilaksanakan pada 26 Februari 2026.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









